ANDA TELAH SAMPAI KE LAMAN SEJARAH YANG UNGGUL DAN HEBAT . UAR-UARKANLAH BAHAWA ANDA TELAH MEMBACA ARTIKEL ATAU MENONTON VIDEO DI SINI

Monday, June 11, 2012

Makam Meledak di Madura

Sebuah makam salah satu keturunan raja ke-13 dari Paku Nata Ningrat yang memerintah tahun 1879-1901 di Pendopo Asta Tinggi (Kuba sebelah barat), Desa Kebonagung, Kecamatan Kota Sumenep, Madura meledak.

Ledakan makam almahum Hj. R. Ajeng Salmah binti kiai RB Abdul Latif terdengar hingga radius 1 KM sekitar pukul 22.30 WIB, Selasa (19/1/2010) malam. Karena penasaran, warga sekitar yang mendengar ledakan itu segera mencari sumber suara.

Rupanya saat dicari sumber ledakan, tak ada asap maupun hal yang mencurigakan di area makam. Namun warga dan juru kunci melihat sebuah makam yang nisannya terbuat dari marmer berserakan.

Salah seorang juru kunci Asta Tinggi, Kabupaten Sumenep yang juga keturunan keraton, Salamet Ready (56), mengaku ledakan ini kategori ghaib.


"Ledakan itu masuk kategori ghaib, karena baru pertama kali terjadi," ujar Salamet, kepada wartawan di lokasi, Rabu (20/1/2010).

Salamet dan warga mengaku, semula ledakan itu diperkirakan dari petasan yang dibuat nelayan atau anak-anak. Ternyata tidak ada hal yang mencurigakan.

Dari pantauan detiksurabaya.com lokasi makam hingga pukul 10.30 WIB dibanjiri warga. Warga penasaran dengan suara ledakan mirip bom. Informasi yang dihimpun makam almarhumah lahir di Sumenep, pada 5 Mei 1941 dan wafat di Surabaya 21 Oktober 2001.

Pendapat Paranormal

Meledaknya makam Hj R. Ajeng Salmah binti kiai RB Abdul Latif merupakan kejadian alam yang luar biasa. Bahkan, ledakan yang menggegerkan warga ini diyakini akan munculnya seseorang keturunan raja Sumenep yang bisa mendamaikan kekisruhan di Indonesia.

Keyakinan ini disampaikan Ki Karebet, seorang paranormal asal Malang, saat berbincang dengan detiksurabaya.com, Rabu (20/1/2010).

"Ini bukan kejadian alam, ini sesuatu yang luar biasa. Akan muncul keturunan Raja Sumenep yang bisa mendamaikan," ujar Ki Karebet.

Situasi negara saat ini kata Ki Karebet, sangat memprihatinkan. Para elit di pemerintahan saling ejek dan saling olok. "Raja yang bertengkar, semut yang melihat jadi tidak enak. Akan muncul hal yang luar biasa dari Sumenep dan ini positif bagi kita semua," tuturnya.

Namun tambah dia, kejadian ini tetap ada sisi negatifnya. Dia meminta warga Sumenep untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Kelaparan bisa saja terjadi. Dia mencontohkan, saat ini harga beras naik.

"Rakyat kecil harus bersiap-siap. Persoalan sandang pangan bisa terjadi," ungkapnya.

Dirinya berharap elit pemerintahan saat ini untuk berdamai dan mendekatkan diri pada Tuhan, serta untuk menjaga sikap agar jangan saling ejek dan olok.

"Lebih banyak ingat kepada yang kuasa. Ini pejabat sampai ke masyarakat. Pemerintah harus mempunyai rasa adil dan tidak memihak tanpa diembel-embel beda politik atau partai," tandasnya.



Pertanda Buruk
Ledakan di makam salah satu keturunan raja ke-13 dari Paku Nata Ningrat di Pendopo Asta Tinggi, Sumenep, Madura bagi kyai dianggap sebagai pertanda negatif. Hal ini berbeda dengan ungkapan paranormal. Para kyai berharap keanehan itu diwaspadai semua pihak.

"Pertanda ini harus diwaspadai semua pihak. Karena efek tanda-tanda itu negatif. Baik yang berhubungan dengan kondisi cuaca saat ini maupun menjelang pelaksanaan Juni 2010 mendatang," kata tokoh di Sumenep yang juga Pengasuh Ponpes Al Karawiy Kecamatan Ganding, KH. Sayad As'ad kepada detiksurabaya.com saat dihubungi, Rabu (20/1/2010).

Pihaknya berharap khususnya warga Sumenep lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Apalagi bila pertanda itu membuat warga Sumenep mengalami ancaman bahaya terutama keturunan raja.

Tapi, kata dia, kekhawatiran tersebut tidak perlu dibesar-besarkan karena jika berdoa dan lebih mendekatkan diri, maka semua bahaya dan ancaman akan berjalan dengan baik.

"Meski begitu tetap harus waspada dan menjalin hubungan baik sesama manusia dan kondisi alam saat ini," jelasnya.

Sementara seorang kyai yang dianggap memiliki kekuatan supranatural, KH Abdurrahman yang akrab dipanggil Bajigur mengaku jika pertanda itu sebagai hal negatif. "Ini pertanda negatif dan perlu memperbanyak doa," tegasnya singkat.

Namun saat ditanya lebih detail, pihaknya menolak menjelaskannya dengan alasan ini rahasia Tuhan. "Sudah saya tidak bisa memberikan penjelasan detail, ini rahasia Tuhan," tegasnya.

Berkaitan Dengan Pemimpin

Pendapat lain mengatakan bahwa meledaknya makam tersebut sebagai tanda berkaitan dengan pimpinan negara atau bupati.

Pasalnya, beberapa kejadian di area pemakaman juga terjadi saat Presiden ke-2 Soeharto dan Ibu Tien meninggal dunia. Saat itu dua pohon asam yang bercabang terpecah menjadi dua. Saat satu pohon asam roboh, keesokan harinya Ibu Tien meninggal dunia. Hal yang sama terjadi saat Soeharto meninggal dunia. Saat itu pohon asam sebelahnya  roboh tanpa ada angin dan hujan.

"Pohon-pohon itu roboh sehari sebelum Ibu Tien dan Seoharto meninggal. Hal-hal aneh ini terjadi di Asta Tinggi. Bahkan saat Soeharto lengser, tembok setinggi 2 meter di sisi barat Asta Tinggi juga roboh tapi bukan dimakan usia," kata salah seorang juru kunci Asta Tinggi, Kabupaten Sumenep yang juga keturunan keraton, Salamet Ready (56) kepada wartawan di lokasi, Rabu (20/1/2010).

Selain Soeharto, kata Salamet, kejadian aneh terjadi sehari sebelum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meninggal dunia. Sebuah pohon cemara setinggi 25 meter tiba-tiba roboh di siang hari. Meski takut menyebut ada orang berpengaruh di Indonesia akan meninggal dunia, namun Salamet tidak berani mendahului takdir Tuhan.

"Selama ini semua tanda-tanda orang penting dan berpengaruh di Indonesia meninggal, selalu ada di sini. Termasuk mantan bupati zaman orde baru Soemar'om, ada sebuah tanda yang diberikan di Asta Tinggi," tambahnya.

Sementara area pemakaman hingga pukul 11.30 WIB dibanjiri warga yang penasaran. Bahkan pihak Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Sumenep mendatangi lokasi untuk melihat dari dekat. "Kita belum bisa menyimpulkan apa-apa, karena masih perlu banyak penyelidikan," kata salah satu petugas Dinas Pariwisata, Aminudin saat di lokasi.

Sumber : detiksurabaya

0 comments:

Post a Comment